Tulang Bawang Barat (Alodelima.com) — Kenangan masa lalu menyisakan ironi di sebuah lahan yang dulunya menjadi pusat pendidikan. Di lokasi itu, pernah berdiri sebuah sekolah yang diharapkan mencetak generasi berdaya saing. Namun kini, fungsi tempat tersebut disebut telah berubah dan memunculkan polemik di tengah masyarakat.
Salah satu narasumber, Hadi, mengisahkan bagaimana perjalanan panjang pembangunan sekolah tersebut dimulai dari nol.
“Di tanah itu, sekitar tahun 2009 sampai 2013, banyak keringat dan air mata kami. Dari tanah kosong, kami bangun menjadi tempat mendidik generasi bangsa, yakni SMK Kesehatan Persada Abadi,” ujarnya.
Menurutnya, masa tersebut menjadi periode penting dalam pengembangan pendidikan di wilayah itu. Namun, kondisi berubah sejak muncul konflik internal pada 2013 yang berdampak pada keberlangsungan sekolah.
“Setelah terjadi konflik, keberadaan sekolah tidak lagi seperti semula. Kini, tempat itu disebut telah beralih fungsi dan sering disorot karena aktivitas yang dinilai tidak sesuai dengan tujuan awalnya,” lanjutnya.
Hadi mengaku prihatin dengan perubahan tersebut. Ia menilai, tempat yang dulunya menjadi ruang belajar kini dipersepsikan berbeda oleh masyarakat.
Selain perubahan fungsi, ia juga menyoroti keberadaan aset yang disebut berasal dari dukungan pemerintah.
“Di lokasi itu ada fasilitas pendidikan berupa Ruang Kegiatan Belajar (RKB) beserta perlengkapannya dari dinas terkait. Itu berarti ada aset yang semestinya dijaga dan dimanfaatkan sesuai peruntukannya,” tegasnya.
Ia juga menyinggung aspek hukum terkait yayasan yang sebelumnya menaungi sekolah tersebut. Menurutnya, perlu ada kejelasan mengenai status dan pengelolaan aset setelah terjadi perubahan kondisi kelembagaan.
“Dalam aturan yayasan, ada ketentuan mengenai pengelolaan aset jika terjadi perubahan status. Namun, saya tidak mengetahui secara pasti bagaimana proses perubahan fungsi yang terjadi di lokasi tersebut,” ujarnya.
Sebagai pihak yang pernah terlibat langsung, Hadi menyatakan memiliki kedekatan emosional dengan tempat tersebut.
“Saya pernah menjadi kepala sekolah selama empat tahun dan ikut dalam proses pendiriannya. Jadi, saya tahu betul bagaimana perjuangan dari awal hingga berdirinya bangunan itu,” katanya.
Perubahan fungsi lahan pendidikan menjadi tempat hiburan ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, baik dari sisi moral maupun tata kelola aset. Sejumlah pihak berharap ada penelusuran lebih lanjut untuk memastikan kesesuaian penggunaan lahan dengan ketentuan yang berlaku.
Hingga laporan ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak yayasan maupun instansi terkait mengenai status lahan, pengelolaan aset, serta perubahan fungsi yang terjadi.( Res )
