Categories Nasional

PERANG MODERN: REFLEKTIF ANTUSIASME ANAK MUDA MENJADI PRAJURIT TNI

Ahmad Basri: Advokat – Ketua K3PP

Kita melihat hari ini fenomena anak muda masuk TNI begitu antusias. Dengan dibukanya beberapa Kodam baru di daerah, secara otomatis kebutuhan personel atau prajurit juga menjadi sesuatu yang tidak mungkin dihindari.

Peluang untuk menjadi prajurit TNI pun semakin terbuka luas. Kesempatan menjadi prajurit TNI sebagai bagian dari pengabdian kepada negara menjadi salah satu pilihan bagi anak-anak muda.

Rata-rata mereka datang dari berbagai daerah, termasuk dari desa, dengan latar belakang kehidupan yang berbeda satu sama lainnya.

Kesan yang kemudian muncul saat ini seolah-olah menjadi prajurit TNI begitu mudah. Cukup dengan memiliki kualitas fisik yang baik, sehat jasmani dan rohani, seseorang dianggap telah memenuhi syarat utama untuk menjadi prajurit.

Tentu persoalannya tidak sesederhana itu.
Prajurit muda TNI adalah garda terdepan negara dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi, terutama ketika negara berada dalam ancaman keamanan dan peperangan.

Dalam medan perang, prajurit menjadi tumpuan utama. Strategi perang secanggih apa pun pada akhirnya membutuhkan manusia yang mampu menjalankannya.

Senjata, sistem pertahanan, teknologi, informasi intelijen, hingga strategi militer tidak akan berarti apabila tidak didukung oleh prajurit yang memiliki kemampuan untuk mengoperasikan dan menguasainya.

Di sisi lain, kondisi geopolitik dan keamanan dunia saat ini telah mengalami perubahan yang sangat besar. Pola peperangan juga berubah tidak konvesnsional seperti dulu.

Perang modern tidak lagi semata-mata mengandalkan kekuatan fisik atau pertempuran konvensional seperti yang terjadi pada masa lalu.

Perang modern adalah perang teknologi. Siapa yang menguasai teknologi, informasi, kecerdasan buatan, sistem persenjataan modern, drone, satelit, siber, serta sistem pertahanan dan komunikasi, akan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dalam menghadapi peperangan modern.

Kita dapat melihat berbagai konflik bersenjata yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan teknologi telah mengubah cara negara menjalankan peperangan.

Drone dapat digunakan untuk pengintaian sekaligus serangan. Rudal dapat diluncurkan dari jarak yang sangat jauh. Sistem pertahanan udara semakin canggih. Perang siber bahkan dapat dilakukan tanpa harus berhadapan langsung di medan tempur.

Perang modern tidak lagi hanya berbicara tentang siapa yang memiliki prajurit paling kuat secara fisik. Tetapi juga siapa yang memiliki kemampuan teknologi, sistem informasi, intelijen, strategi, dan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan seluruh perangkat tersebut.

Dalam konteks inilah pembangunan kekuatan TNI perlu melihat persoalan prajurit secara lebih luas. Menjadi prajurit bukan hanya persoalan memiliki tubuh yang kuat, lari yang cepat, mampu melakukan push-up, atau mampu melewati berbagai tahapan tes fisik.

Semua itu tetap penting. Tetapi perang modern membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan fisik. Prajurit juga membutuhkan kemampuan berpikir, penguasaan teknologi, kemampuan membaca situasi, penguasaan informasi, kemampuan komunikasi, serta pemahaman terhadap perkembangan geopolitik dan strategi pertahanan.

Prajurit masa depan harus mampu berhadapan dengan teknologi. Drone, artificial intelligence, sistem persenjataan tanpa awak, satelit, radar, teknologi komunikasi, peperangan elektronik, hingga perang siber akan menjadi bagian dari dinamika pertahanan negara.

Maka, ketika negara membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak muda untuk menjadi prajurit TNI, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak prajurit yang dapat direkrut.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: prajurit seperti apa yang sedang kita persiapkan untuk menghadapi perang masa depan? Jangan sampai kuantitas prajurit bertambah, tetapi kualitas sumber daya manusianya tidak mengikuti perkembangan zaman.

Kita membutuhkan prajurit yang kuat secara fisik, tetapi juga kuat secara intelektual. Prajurit yang disiplin, tetapi juga mampu berpikir kritis. Prajurit yang memiliki keberanian, tetapi juga memiliki kemampuan membaca perkembangan teknologi dan perubahan strategi peperangan.

Sebab medan perang masa depan bisa jadi tidak lagi seperti medan perang yang kita kenal selama ini. Musuh tidak selalu datang dengan tank dan pasukan berjalan kaki. Serangan dapat datang melalui udara, laut, ruang angkasa, jaringan digital, sistem komunikasi, bahkan melalui informasi dan teknologi.

Di sinilah pentingnya perubahan paradigma dalam mempersiapkan prajurit TNI. Jangan hanya membesarkan otot prajurit, tetapi juga membesarkan otak dan kemampuan teknologinya. Karena perang modern bukan lagi semata-mata perang antara manusia dengan manusia.

Perang modern adalah perang antara teknologi, strategi, informasi, kecerdasan, dan kemampuan manusia dalam menguasainya.

Dan pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia yang mampu mengendalikannya. Di situlah prajurit TNI masa depan harus dipersiapkan. Bukan kekuatan otot atau mata melotot.

More From Author

Leave a Reply

Berita Terkait: